Senin, 22 Oktober 2012

ANALISIS JURNAL



Tema               : Life Insurance and Demand Determinants
Pengarang       :  Subir Sen
  Dr. S. Madheswaran
Tahun              : 2007
Judul               : Are Life Insurance Demand Determinants valid for Selected Asian Economies and India?


Latar Belakang
Pertumbuhan dari sektor pelayanan di ekonomi Asia memimpin perubahan substansial dalam sektor keuangan. Krisis keuangan Asia berefek kepada ekonomi Asia yang disusun kembali menjadi pengukuran aturan menuju peningkatan produk dengan meminimalisasi risiko dan kegagalan. Negara-negara dalam kawasan ekonomi ASEAN juga melakukan perubahan struktur ekonomi, terlebih saat China mencapai peningkatan ekonomi. Industri asuransi di kawasan ekonomi Asia adalah hal yang menjadi sasaran utama dalam pengoperasian asuransi. Monopoli pemerintah diupayakan menjaga bagian ini dari pengisolasian pasar asuransi terhadap partisipan dari pihak asing.

Masalah
Selama periode 1990, pelayanan sektor yang terbesar di ekonomi Asia adalah industri asuransi. Tetapi, peraturan pembentukan kembali dan perubahan polis di ekonomi ASEAN selama periode krisis keuangan serta proses liberalisasi di beberapa negara SAARC menyebabkan perubahan pola dari industri asuransi itu sendiri. Hal ini menjadi fokus pada 4 negara SAARC, 2 negeri dari China, dan 6 negara ASEAN. Dengan memakai variabel yang ada, diharapkan dapat menjelaskan tingkat pola asuransi khususnya selama 11 tahun periode (1994-2004).


Metodologi
Dengan fokus mempelajari kepada 12 negara, permasalahan ekonomi yang terdiri atas 4 negara dari asosiasi SAARC (South Asia Association for Regional Cooperation) yang mencakup beberapa negara seperti India,  Bangladesh, Pakistan, dan Sri Lanka. Lalu, 2  bagian wilayah China yang mencakup China dan Hong Kong, serta  6 dari 10 negara ASEAN, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. 12 negara bagian ini telah memiliki perjanjian dalam berbagai bidang, seperti teknik dan pertumbuhan ekonomi, dan lebih dari itu juga melakukan pemberantasan kemiskinan.
·         Sumber data
Panel dari 12 negara Asia yang mempelajari permasalahan ekonomi dari 11 tahun sebelumnya, dimulai dari 1994-2004 dimana berkonstruksi kepada pengumpulan data tahunan bersumber kepada data yang berbeda. Gambaran tentang premi asuransi dikumpulkan berdasarkan variasi isu dari Sigma, yaitu sebuah publikasi dari Swiss.
·         Variabel
Penggunaan variabel ekonomi sama baiknya dengan demografik yang mana berasal dari The International Financial Statistics 2006 dan The World Development Indicators 2006. Semua variabel ekonomi dapat diubah ke dalam bentuk harga konstan sebesar 2000.

Hasil Analisis
Dari hasil penelitian, diperoleh hal-hal yang mengejutkan, seperti perlunya penyelenggaraan lebih lanjut terhadap penyelidikan faktor keberhasilan dengan menentukan permintaan untuk masalah yang menyebabkan kegagalan-kegagalan dalam hal asuransi, sehingga dapat menjelaskan skenario yang terjadi di India. Dalam hal ini, peneliti mempertimbangkan dua hal penting variable, yaitu asuransi, penetrasi, dan kepadatan penduduk. Selain itu, peneliti berusaha menjelaskan variasi tersebut ke dalam variabel ekonomi, seperti pendapatan, tabungan, harga dari produk asuransi, inflasi, dan kenaikan bunga. Lalu, ke dalam variabel demografik, seperti rasio ketergantungan, harapan hidup, dan rata-rata tingkat kematian serta urbanisasi. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa pendapatan (GDP per kapita), ukuran keuangan per harga polis asuransi, dan rata-rata bunga riil adalah variabel yang signifikan. Sedangkan, variabal demografik, seperti urbanisasi dan pertumbuhan populasi urban, menunjukkan persentase total populasi yang signifikan pula. Pendapatan yang berbanding terbalik terhadap permintaan penetrasi asuransi diharapkan memberikan dampak positif. Perhitungan keuangan mempunyai hubungan positif dengan penetrasi dan kepadatan penduduk yang mana sistem keuangan mengalami pertumbuhan besar, hal itu akan memberikan dampak positif dalam meningkatkan permintaan untuk produk asuransi. Dengan kata lain, bahwa batasan-batasan tradisional memutuskan antara institusi khusus keuangan, secara keseluruhan keterlibatan dalam sektor keuangan di perbedaan bisnis dapat lebih baik menawarkan produk asuransi dan demikian pula peningkatan permintaan kedepannya. Harga diharapkan  dapat menjadi berbanding terbalik terhadap permintaan. Disini ditunjukkan bahwa adanya hubungan positif dan saran untuk harga asuransi yang lebih tinggi untuk mendorong pembelian dari asuransi tersebut. Sedangkan, urbanisasi mempunyai hubungan positif dan benar-benar menguatkan pertimbangan dan pemusatan urban dapat menciptakan permintaan yang berarti konsumsi dari produk asuransi dapat ditingkatkan.

Kesimpulan
Secara keseluruhan, analisis mengkonfirmasikan bahwa pertimbangan pendapatan menjadi faktor yang rumit dalam menjelaskan konsumsi asuransi, variabel ekonomi terhadap tabungan domestik, dan tingkatan dari sektor perkembangan keuangan dan inflasi. Satu implikasi polis yang penting bisa menjadi kuat maupun melemah dari pihak bank dan pihak non-bank lainnya yang mana mempunyai sisi positif-negatif untuk industri asuransi. Bank sebagai garis depan untuk pelayanan asuransi dapat mendorong permintaan. Selain itu, terdapat pendapat bahwa peningkatan tabungan dapat meningkatkan konsumsi asuransi, tetapi asuransi tidak murni, seperti tabungan. Beberapa varian itu mempunyai peranan penting untuk menjelaskan pilihan individu antara asuransi dan instrumen tabungan lainnya. Permasalahan lebih dari 11 tahun lalu mendukung fakta bahwa variabel demografik, seperti harapan hidup, rasio ketergantungan tua dan muda, dan rataan dari urbanisasi adalah faktor penentu yang signifikan dari permintaan asuransi. Bagaimanapun, tidak bisa disamakan kesimpulan dan analisis waktu di India hanya sebagai hal urbanisasi tetapi mempunyai beberapa hubungan yang signifikan terhadap permintaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar